Keterangan Photo : Subagja Kiri Ketua ( Jareta) Revi, Kana.
DEPOK. NUANSAPUBLIK COM
– Di tengah gemerlap kemewahan para pejabat negara dan deretan kasus mega korupsi yang terus mencederai rasa keadilan publik, ada realitas lain yang luput dari sorotan:
perjuangan rakyat kecil untuk sekadar mendapatkan pekerjaan yang layak di negeri yang katanya kaya raya akan sumber daya alam.
Revi adalah salah satu potret itu. Lulusan SMK Muhammadiyah Bogor jurusan Teknik Jaringan Komputer, yang seharusnya menjadi bagian dari tenaga terampil siap kerja, justru harus menelan kenyataan pahit tidak terserap oleh dunia kerja sesuai keahliannya.
Sulitnya memperoleh pekerjaan memaksa Revi bertahan hidup sebagai tukang pijat di ITC Depok saat ditemui pada Senin 05/12/2026.
– Pekerjaan yang sama sekali jauh dari disiplin ilmu yang ia pelajari selama bertahun-tahun.
Pertemuan Revi dengan Subagya, Ketua JARETA (Jaringan Rakyat Jelata), menjadi simbol nyata kesenjangan antara janji negara dan realitas di lapangan.
Negara menjanjikan kesejahteraan, sementara rakyat jelata bergulat dengan ketidakpastian hidup.
“Revi bukan tidak mau bekerja, tapi kesempatan itu yang tidak pernah benar-benar terbuka.
Ia lulusan teknik, namun sistem tidak berpihak pada mereka yang tidak punya akses, koneksi, dan modal,” ungkap Subagya.
Kisah ini terasa semakin ironis ketika disandingkan dengan narasi optimisme pemerintah tentang rencana pembukaan 19 juta lapangan pekerjaan.
Angka besar yang terdengar indah di podium, namun belum sepenuhnya terasa di lorong-lorong kehidupan rakyat kecil. Faktanya, banyak lulusan sekolah kejuruan justru terserap di sektor informal, bekerja seadanya, tanpa jaminan, dan jauh dari kompetensi yang mereka miliki.
Revi bukan satu-satunya. Ia hanyalah wajah dari ribuan, bahkan jutaan generasi muda Indonesia yang terjebak dalam sempitnya lapangan kerja,
lemahnya perlindungan tenaga kerja, serta kebijakan pembangunan yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat kecil.
Di negeri yang kaya, pengangguran dan kemiskinan seharusnya menjadi anomali, bukan kenormalan.
Namun selama pembangunan lebih banyak dinikmati segelintir elite, sementara suara rakyat jelata diabaikan, ketimpangan akan terus melebar.
Kisah Revi seharusnya menjadi alarm keras bagi para pemangku kebijakan: pembangunan bukan sekadar angka dan target, melainkan tentang manusia, martabat, dan keadilan sosial.
Jika negara benar-benar hadir, maka lulusan seperti Revi tidak perlu memilih antara bertahan hidup atau mengubur cita-citanya…( TN)
Penulis : Subagja ( Ketua Rakyat Jelata ) JARETA.








