Fhoto: Ketua RW. 15, Eddy Sutjipto, Walikota Depok Supian Suri, sekcam Cilodong, lurah Sukamaju. RT. Dialog terkait pembangunan classter Taman Kurma ..( Doc.tony)
DEPOK : Nuansapublik. Com.
— Turap di Cluster Taman Kurma, RW 22 Kelurahan Sukamaju, Kecamatan Cilodong, mengalami kerusakan longsor akibat tergerus aliran air. Kondisi tersebut ditinjau pada Jumat pagi (23/01/2025) guna memastikan langkah penanganan darurat serta mencegah dampak yang lebih luas ke wilayah sekitar.
Selaku teknis lapangan Cluster Taman Kurma, Lutfi menjelaskan bahwa pondasi turap di bagian bawah sudah tergerus cukup parah sehingga kondisinya menjadi sangat rentan.

Menurutnya, debit air yang terus mengalir serta pori-pori tanah yang semakin terbuka mempercepat potensi erosi, terlebih lokasi tersebut berfungsi seperti pintu air yang memiliki daya dorong cukup kuat.
“Langkah paling darurat saat ini adalah pemasangan jerujuk bambu sepanjang area rawan untuk menahan erosi dan mencegah longsor susulan. Itu yang paling utama dilakukan terlebih dahulu,” ujar Lutfi.
Ia juga menjelaskan bahwa kawasan tersebut merupakan perumahan cluster yang menjual kavling, di mana pembangunan rumah dilakukan secara mandiri oleh pemilik lahan.
Terkait perizinan, disebutkan bahwa dokumen perizinan dinyatakan telah lengkap.
Sementara itu, Ketua RW 15 Kelurahan Sukamaju, Edy Sutjipto, menegaskan perlunya tindak lanjut serius dari pihak terkait, khususnya terhadap lahan milik pengembang yang berbatasan langsung dengan wilayah RW 15.
Ia meminta dinas perizinan untuk memastikan kembali kelengkapan izin serta meminta camat dan lurah agar terus memonitor perkembangan dan penyelesaiannya.
“Kami di RW 15 berada di posisi tanah yang lebih rendah dibandingkan RW 22. Jika terjadi longsor, dampaknya justru akan langsung ke wilayah kami,” jelas Edy.
Ia mengungkapkan bahwa sebelumnya telah ada kesepakatan antara pengembang dan warga RW 15, di antaranya terkait tanggung jawab pengembang terhadap turap, pembangunan rumah agar tidak menimbulkan dampak negatif, serta sejumlah kompensasi seperti pembangunan pos jaga, penguatan jembatan, pemasangan kaca cembung di tikungan, hingga pemindahan tiang listrik di dekat masjid.
Namun hingga kini, Edy menyebutkan belum satu pun kompensasi tersebut direalisasikan oleh pihak pengembang.
Lambannya pembangunan perumahan yang sudah berjalan sekitar tiga tahun dan minimnya peminat dinilai turut memperlambat realisasi tanggung jawab tersebut.
“Kami berharap pemerintah dan pengembang segera mengambil langkah konkret, karena ini menyangkut keselamatan warga,” pungkasnya…
( Tony)








