Program hibah Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) Kemendiktisaintek 2026 menghadirkan pencatatan transaksi real-time, transparansi tabungan nasabah, dan laporan keuangan otomatis.
BOGOR : Nuansapublik.Com
– Tim dosen Universitas Binaniaga Indonesia (UNBIN) mengembangkan dan menerapkan Sistem Informasi Manajemen Bank Sampah Terintegrasi (SIMBAS) untuk mendukung peningkatan kinerja Bank Sampah Emas RW 12, Kelurahan Cibinong, Kabupaten Bogor. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang memperoleh hibah Kemendiktisaintek tahun 2026 melalui skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP).
Program tersebut berangkat dari kebutuhan mitra untuk memperbaiki tata kelola operasional bank sampah. Sebelum pendampingan, pencatatan hasil penimbangan, jenis sampah, nilai transaksi, dan tabungan nasabah masih dilakukan secara manual. Cara tersebut berisiko menimbulkan kesalahan pencatatan, memperlambat rekapitulasi, serta membuat nasabah belum dapat memantau saldo dan riwayat transaksi secara mandiri.

Bank Sampah Emas sendiri merupakan inisiatif warga RW 12 yang telah bergerak dalam pengelolaan sampah anorganik sejak 2017. Berdasarkan rekapitulasi periode 2017–2024 dalam laporan kegiatan, mitra telah mengelola lebih dari 111 ton sampah anorganik dengan nilai ekonomi sekitar Rp239 juta. Capaian tersebut menunjukkan potensi bank sampah berbasis komunitas dalam mendukung ekonomi sirkular sekaligus membuka peluang peningkatan manfaat ekonomi bagi warga.
Tim PKM UNBIN dipimpin Sumardjono, S.E., M.M., dengan anggota Alam Supriyatna, Ir., M.MSI., dan Binanda Wicaksana, S.T., M.Kom. Pelaksanaan kegiatan juga didukung oleh mahasiswa Daud Zulfikar dan Aliyatu Shabrina Zein. Tim menerapkan pendekatan partisipatif dengan melibatkan pengelola dan perwakilan nasabah, mulai dari identifikasi kebutuhan, perancangan sistem, pelatihan, hingga pengujian alur kerja di lokasi mitra.
SIMBAS dikembangkan sebagai aplikasi berbasis web yang dapat diakses melalui browser pada komputer, tablet, maupun telepon pintar. Sistem ini membantu pengelola mencatat penyetoran sampah dari warga secara digital, menghitung nilai transaksi dan memperbarui saldo tabungan, mencatat penjualan sampah kepada pengepul, serta menghasilkan laporan keuangan dan rekapitulasi tabungan nasabah secara otomatis. Nasabah juga disiapkan untuk mengakses informasi saldo dan riwayat penyetoran secara lebih transparan.

Untuk mendukung penerapan di lapangan, tim menyerahkan dua unit tablet Samsung Galaxy Tab A9 dan satu unit printer thermal 80 mm BARCODIA IWARE. Tablet digunakan untuk memasukkan data penimbangan melalui SIMBAS, sedangkan printer thermal membantu mencetak bukti transaksi atau struk yang dapat diberikan kepada nasabah. Perangkat tersebut diintegrasikan agar proses pencatatan dan pemberian bukti transaksi dapat dilakukan dalam satu alur kerja.
Pada tahap implementasi, tim mendampingi pengelola saat melakukan simulasi dan uji coba transaksi penimbangan. Proses ini mencakup pemilihan jenis sampah, input bobot, pencatatan nilai transaksi, pembaruan saldo, hingga pencetakan struk. Tim juga melakukan evaluasi untuk memastikan kesesuaian antara proses operasional di lapangan dan sistem digital, termasuk penyempurnaan validasi bobot desimal, input harga, serta sinkronisasi data transaksi.
Dalam laporan kemajuan, pengembangan aplikasi SIMBAS telah diselesaikan 100 persen. Namun, implementasi lapangan masih berada pada tahap uji coba alur operasional dan penyempurnaan sistem sebelum penggunaan penuh. Program ini menargetkan peningkatan efisiensi waktu operasional hingga 70 persen; capaian akhir tersebut masih perlu divalidasi melalui evaluasi setelah penerapan berjalan secara menyeluruh.
Melalui program ini, Universitas Binaniaga Indonesia mendorong pemanfaatan hasil kerja dosen agar dapat digunakan langsung oleh masyarakat. Digitalisasi pengelolaan Bank Sampah Emas diharapkan memperkuat akuntabilitas, meningkatkan kepercayaan nasabah, memudahkan pengambilan keputusan pengelola, serta mendorong partisipasi warga dalam memilah sampah dari sumbernya. Inisiatif ini juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDG 8 tentang pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi serta SDG 12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab..(.Red/Tony. Y)








