Photo : Fazrial Ihfron / UMJ…
Jogyakarta: Nuansapublik.Com.
Tujuh puluh sembilan tahun silam, sebuah fajar menyingsing di Yogyakarta melalui tangan dingin Lafran Pane dan kawan-kawan. Kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) bukanlah sebuah kebetulan historis, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial bagi sebuah bangsa yang baru saja menghirup udara kemerdekaan. HMI lahir dari rahim pergulatan batin antara teologi yang membebaskan dan semangat nasionalisme yang membara. Namun, hari ini, saat kita berdiri di ambang delapan dekade perjalanan, kita tidak boleh hanya terjebak dalam upacara seremonial yang hampa makna. Kita harus berani melakukan pembedahan atas kondisi internal dan eksternal organisasi dengan pisau analisis yang tajam.
Sejarah telah mencatat bahwa HMI adalah persemaian bagi kaum intelektual organik. Kita bukan sekadar mahasiswa yang berkutat di perpustakaan, melainkan para pemikir yang turun ke jalan, menyuarakan jerit tangis rakyat yang terpinggirkan oleh kebijakan yang tidak adil. Namun, mari kita bertanya pada diri sendiri di milad yang ke-79 ini: apakah api perjuangan itu masih menyala, ataukah ia telah redup dan hanya menyisakan abu romantisme masa lalu? Tantangan hari ini jauh lebih canggih daripada sekadar melawan kolonialisme fisik. Kita menghadapi neokolonialisme ekonomi, hegemoni digital, dan krisis integritas yang melanda hampir di seluruh lini kehidupan berbangsa.
Secara akademis, Nilai Dasar Perjuangan (NDP) adalah kompas moral yang seharusnya membimbing setiap langkah kader. NDP mengajarkan kita tentang tauhid yang radikal sebuah keyakinan yang membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesama manusia, harta, maupun kekuasaan. Namun, realitasnya, seringkali NDP hanya menjadi teks hafalan untuk lulus dalam formalitas perkaderan. Ada diskoneksi yang mengkhawatirkan antara teori yang kita diskusikan di forum-forum kajian dengan praktik politik yang kita jalankan di lapangan. Intelektualitas tanpa moralitas adalah kebutaan, sementara aktivisme tanpa intelektualitas adalah kekonyolan.
Kita sedang berada di era di mana kebenaran seringkali dikalahkan oleh narasi yang diproduksi secara masal oleh algoritma. Inilah era post-truth, sebuah medan tempur baru bagi kader HMI. Sebagai organisasi yang membawa label “Intelektual”, HMI tidak boleh gagap menghadapi arus informasi. Kita harus menjadi garda terdepan dalam melawan pembodohan publik dan manipulasi opini. Kader HMI harus mampu membedah fenomena sosial dengan metodologi yang kokoh, bukan hanya sekadar ikut-ikutan tren yang dangkal. Kita dituntut untuk menjadi produsen gagasan, bukan sekadar konsumen isu.
Di sisi lain, potret gerakan mahasiswa hari ini sedang mengalami krisis identitas. Pragmatisme seringkali lebih menggiurkan daripada idealisme. Banyak yang terjebak pada politik praktis jangka pendek dan melupakan tugas suci sebagai kelompok penekan (pressure group). HMI harus berani mengambil jarak yang tepat dengan kekuasaan. Kita harus menjadi mitra kritis pemerintah mendukung kebijakan yang pro-rakyat, namun menjadi kritikus yang paling pedas terhadap segala bentuk penyimpangan dan ketidakadilan. Independensi HMI bukan berarti sikap apatis, melainkan ketegasan posisi untuk tetap berdiri di atas kepentingan kebenaran.
Masalah ekologi dan ketimpangan struktur sosial juga harus menjadi agenda utama dalam diskursus HMI ke depan. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan keseimbangan alam dan keadilan sosial bagi kaum mustad’afin. Maka, perjuangan HMI di tahun ke-79 ini harus mencakup advokasi terhadap kerusakan lingkungan dan pembelaan terhadap hak-hak masyarakat adat serta kelompok rentan lainnya. Kita tidak boleh absen dalam isu-isu kemanusiaan universal, karena Islam yang kita yakini adalah Islam yang Rahmatan lil ‘Alamin.
Secara organisatoris, HMI harus melakukan otokritik terhadap sistem perkaderannya. Apakah proses yang kita jalani masih relevan untuk mencetak pemimpin masa depan? Kita butuh transformasi yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa harus menanggalkan identitas keislaman. Kader HMI harus menguasai teknologi, memahami dinamika geopolitik global, dan memiliki kecakapan manajerial yang mumpuni. Perubahan adalah sebuah keniscayaan, dan organisasi yang menolak untuk berubah akan segera menjadi artefak sejarah.
Milad ke-79 ini adalah momentum untuk melakukan reaktualisasi nilai-nilai perjuangan. Kita harus merapatkan barisan, bukan untuk tujuan kekuasaan kelompok, melainkan untuk kejayaan Indonesia. HMI harus kembali menjadi rumah bagi para pemikir merdeka, tempat di mana gagasan-gagasan besar lahir dan diuji. Jangan biarkan sekat-sekat faksi menghambat gerak maju organisasi. Kita adalah satu tubuh di bawah naungan bendera hijau hitam.
Sebagai penutup, mari kita teguhkan kembali komitmen kita pada tujuan HMI: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. Perjalanan masih panjang, dan rintangan akan semakin terjal. Namun, selama iman tetap di dada, ilmu di kepala, dan bakti di raga, HMI akan tetap berdiri kokoh sebagai benteng terakhir pertahanan martabat bangsa.
Selamat Milad ke-79, wahai kawan-kawan seperjuangan. Mari kita teruskan estafet perjuangan ini dengan penuh keberanian dan kehormatan. Tetaplah menjadi cahaya di tengah kegelapan, dan menjadi suara bagi mereka yang dibungkam.
Yakin Usaha Sampai!..
Penulis: Fazrial Ihfron / UMJ.




