Depok : Nuansapublik.Com
— Di tengah semakin meningkatnya perhatian dunia terhadap autisme, masih
banyak keluarga di Indonesia yang menjalani perjalanan panjang dalam kesunyian.
Kesunyian karena minimnya pemahaman masyarakat, kesalahpahaman yang terus
beredar, hingga lingkungan yang belum sepenuhnya siap menerima cara
berkomunikasi dan berinteraksi yang berbeda dari anak-anak autistik.
Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan yang
memengaruhi komunikasi, pemrosesan sensori, regulasi emosi, serta interaksi sosial
seseorang. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi individu, tetapi juga seluruh
lingkungan di sekitarnya—keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Dukungan dari ketiga
lingkungan ini menjadi faktor penting agar individu autistik dapat tumbuh dan
berpartisipasi dalam kehidupan sosial secara lebih optimal.
Berangkat dari realitas tersebut, Peduli ASD (PT Peduli Autisme Indonesia)
menghadirkan Festival Peduli Autisme 2026, sebuah gerakan edukasi publik berbasis
sains yang bertujuan membangun pemahaman yang lebih utuh tentang autisme
sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif.
Festival ini mengusung
tema “Bangga Membersamai Autistik: Dari Rumah, ke Sekolah, hingga Masyarakat.”
Tema ini mencerminkan perjalanan yang dialami banyak keluarga autistik—bahwa
dukungan terhadap anak tidak hanya dimulai dari rumah, tetapi juga membutuhkan
pemahaman dari sekolah dan masyarakat luas.
Acara puncak festival akan diselenggarakan pada Sabtu, 4 April 2026, pukul
10.00–18.00 WIB, di Mall Pesona Square, Kota Depok, dengan konsep integrated.
inclusive experience di ruang publik. Festival ini dirancang sebagai ruang pertemuan
antara keluarga anak autistik, tenaga kesehatan, pendidik, akademisi, serta masyarakat
umum dalam satu ekosistem edukasi yang terbuka dan inklusif.
Rangkaian acara festival dibangun dalam tiga segmen utama yang membentuk alur
cerita tentang perjalanan memahami autisme.
Segmen pertama bertajuk “Ruang Cerita
& Realita Autisme”, berupa fireside chat yang menghadirkan dokter anak subspesialis
serta perwakilan Komisi Nasional Disabilitas RI. Dalam sesi ini, peserta diajak
memahami autisme sebagai variasi perkembangan manusia, sekaligus melihat realitas
yang dihadapi banyak keluarga yang masih berjuang mendapatkan dukungan yang
tepat.
Diskusi ini menekankan bahwa penerimaan emosional keluarga merupakan
fondasi penting dalam perjalanan intervensi anak autistik.
Segmen kedua menghadirkan “Forum Pendidikan Inklusif”, sebuah talkshow dan
diskusi publik yang melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok serta perwakilan
sekolah inklusi dari SD Nasional Plus Tunas Global. Diskusi ini membahas praktik
komunikasi di sekolah inklusi, tantangan yang dihadapi guru di lapangan, serta peran
pemerintah daerah dalam membangun sistem pendidikan yang lebih ramah bagi anak
berkebutuhan khusus.
Sementara itu, segmen ketiga bertajuk “Autisme dan Sains” akan menghadirkan kuliah
publik interaktif yang membahas autisme dari perspektif ilmiah, termasuk aspek
genetika dan perkembangan neurobiologis.
Melalui sesi ini, masyarakat diharapkan
dapat memahami autisme secara lebih ilmiah sekaligus mengetahui pendekatan yang
tepat dalam berinteraksi dengan individu autistik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain tiga segmen utama tersebut, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan
pendukung yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada
pengunjung.
Di antaranya adalah layanan skrining perkembangan anak dan konsultasi
singkat dengan tenaga profesional, booth edukasi autisme dan aplikasi komunikasi
inclusive experience di ruang publik. Festival ini dirancang sebagai ruang pertemuan
antara keluarga anak autistik, tenaga kesehatan, pendidik, akademisi, serta masyarakat
umum dalam satu ekosistem edukasi yang terbuka dan inklusif.
Rangkaian acara festival dibangun dalam tiga segmen utama yang membentuk alur
cerita tentang perjalanan memahami autisme. Segmen pertama bertajuk “Ruang Cerita
& Realita Autisme”, berupa fireside chat yang menghadirkan dokter anak subspesialis
serta perwakilan Komisi Nasional Disabilitas RI.
Dalam sesi ini, peserta diajak
memahami autisme sebagai variasi perkembangan manusia, sekaligus melihat realitas
yang dihadapi banyak keluarga yang masih berjuang mendapatkan dukungan yang
tepat. Diskusi ini menekankan bahwa penerimaan emosional keluarga merupakan
fondasi penting dalam perjalanan intervensi anak autistik.
Segmen kedua menghadirkan “Forum Pendidikan Inklusif”, sebuah talkshow dan
diskusi publik yang melibatkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok serta perwakilan
sekolah inklusi dari SD Nasional Plus Tunas Global. Diskusi ini membahas praktik
komunikasi di sekolah inklusi, tantangan yang dihadapi guru di lapangan, serta peran
pemerintah daerah dalam membangun sistem pendidikan yang lebih ramah bagi anak
berkebutuhan khusus.
Sementara itu, segmen ketiga bertajuk “Autisme dan Sains” akan menghadirkan kuliah
publik interaktif yang membahas autisme dari perspektif ilmiah, termasuk aspek
genetika dan perkembangan neurobiologis. Melalui sesi ini, masyarakat diharapkan
dapat memahami autisme secara lebih ilmiah sekaligus mengetahui pendekatan yang
tepat dalam berinteraksi dengan individu autistik dalam kehidupan sehari-hari.
Selain tiga segmen utama tersebut, festival ini juga menghadirkan berbagai kegiatan
pendukung yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada
pengunjung. Di antaranya adalah layanan skrining perkembangan anak dan konsultasi
singkat dengan tenaga profesional, booth edukasi autisme dan aplikasi komunikasi
Festival Peduli Autisme 2026 merupakan bagian dari rangkaian kampanye literasi
autisme yang berlangsung sejak Desember 2025 hingga Mei 2026, melalui berbagai
kegiatan edukasi seperti webinar, diskusi daring, dan kampanye publik di media sosial.
Melalui festival ini, Peduli ASD berharap masyarakat dapat melihat autisme dengan
perspektif yang lebih utuh—bahwa di balik berbagai tantangan yang dihadapi keluarga
autistik, terdapat juga harapan besar untuk membangun masyarakat yang lebih
memahami, menerima, dan mendukung keberagaman cara manusia berkembang.
Salah satu fasilitas yang menjadi perhatian khusus dalam festival ini adalah Sensory
Space, sebuah ruang sensori berbasis pendekatan Snoezelen yang dirancang untuk
membantu anak autistik mengatur emosi dan mengurangi stres sensorik. Ruang ini
menggunakan stimulasi multisensorik terkontrol seperti cahaya lembut, tekstur,
gerakan, serta aroma tertentu yang dapat membantu meningkatkan regulasi emosi dan
fokus anak.
Panitia memperkirakan festival ini akan menghadirkan sekitar 300 peserta pada setiap
sesi edukasi serta menjangkau hingga pengunjung sepanjang kegiatan
berlangsung. Selain itu, ratusan keluarga juga akan mendapatkan buku saku edukasi
mengenai cara berinteraksi dengan individu autistik serta informasi dasar mengenai
autisme berbasis sains.
Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc yang juga ibu dari individu autistik,
menjelaskan bahwa festival ini lahir dari kebutuhan nyata yang dirasakan banyak
keluarga anak autistik. “Selama ini banyak keluarga yang berjalan sendirian dalam
memahami autisme. Mereka mencari informasi sendiri, menghadapi stigma sendiri,
bahkan sering merasa bersalah atas kondisi anaknya. Melalui festival ini kami ingin
membuka ruang belajar bersama, agar masyarakat memahami bahwa autisme bukan
sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang perlu dipahami,” ujar Dr. Isti.
Ia menambahkan bahwa perubahan besar dalam membangun masyarakat inklusif
hanya dapat terjadi melalui kolaborasi berbagai pihak. “Kami percaya bahwa perubahan
dimulai dari pemahaman. Ketika keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan
masyarakat dapat berjalan bersama, maka anak-anak autistik memiliki kesempatan
yang jauh lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi dalam kehidupan
sosial.”
Festival Peduli Autisme 2026 merupakan bagian dari rangkaian kampanye literasi
autisme yang berlangsung sejak Desember 2025 hingga Mei 2026, melalui berbagai
kegiatan edukasi seperti webinar, diskusi daring, dan kampanye publik di media sosial.
Melalui festival ini, Peduli ASD berharap masyarakat dapat melihat autisme dengan
perspektif yang lebih utuh—bahwa di balik berbagai tantangan yang dihadapi keluarga
autistik, terdapat juga harapan besar untuk membangun masyarakat yang lebih
memahami, menerima, dan mendukung keberagaman cara manusia berkembang…








