SMK Forward Nusantara Tegaskan Komitmen Cetak Wirausahawan Muda Lewat Business Competition Arli Kurnia Award

Caption foto : Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono (empat kiri) memberikan piala penghargaan kepada siswa dengan produk wirausaha terbaik SMK Forward Nusantara, Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Kota Depok, Jumat (13/2).

Depok : Nuansapublik.Com.

– SMK Forward Nusantara (Fornus) kian menegaskan komitmennya dalam mencetak wirausahawan muda sejak bangku sekolah. Melalui ajang Business Competition Arli Kurnia Award yang digelar Jumat (13/2), sekolah yang berlokasi di Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Kota Depok ini memberikan penghargaan dan sertifikat kepada siswa kelas X dan XI yang berhasil membuktikan produknya layak jual di pasaran.

Program entrepreneur yang dirancang secara serius tersebut membuat lulusan SMK Forward Nusantara semakin dilirik dunia industri, bahkan sebelum mereka resmi menamatkan pendidikan.
Kepala SMK Forward Nusantara, Danan Wuryanto Pramono menegaskan bahwa pola pembelajaran di sekolahnya memang disusun untuk mempersiapkan siswa menghadapi dunia kerja dan usaha setelah lulus.

Menurut Pramono, skema pembelajaran di SMK Forward Nusantara berbeda dari sekolah pada umumnya. Seluruh materi pembelajaran diselesaikan lebih awal, sehingga saat duduk di kelas XII siswa dapat fokus menjalani praktik kerja lapangan (PKL), magang, serta penyelesaian ujian dan laporan akhir.

“Kelas 10 menyelesaikan materi kelas 10. Kelas 11 semester satu menuntaskan materi kelas 11, dan semester dua sudah menghabiskan materi kelas 12. Jadi saat kelas 12, anak-anak benar-benar praktik di dunia kerja,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, sebagian besar siswa kelas XII sudah berada di perusahaan untuk bekerja. Bahkan, permintaan magang dari dunia industri kerap tidak mampu dipenuhi sepenuhnya.

“Untuk pemagangan saja kami sudah kewalahan memenuhi permintaan. Hampir semua terserap. Anak yang tidak dimagangkan biasanya karena masalah kedisiplinan atau kemampuan yang memang masih kurang,” ungkapnya.

Pramono menjelaskan, pihaknya kini mendorong perubahan paradigma dari konsep BMW (Bekerja, Melanjutkan, Berwirausaha) menjadi BBM (Berwirausaha, Bekerja, Melanjutkan). Titik sentral pendidikan diarahkan pada keberanian siswa untuk memulai usaha sejak dini.

Sebagai bentuk keseriusan, sekolah menggandeng inkubator bisnis di Jakarta selama tiga bulan pertama pembinaan. Siswa mendapatkan pelatihan live streaming, public speaking, hingga strategi pemasaran digital.

Selanjutnya, siswa kembali mendapat pendampingan selama tiga bulan dari kreator dan praktisi bisnis, Arli Kurnia.

Dalam pembinaan, siswa diajarkan memahami tiga jenis produk, yakni komoditas, produk tren, dan produk kebutuhan spesifik. Peluang besar, menurut Pramono, justru terdapat pada kebutuhan spesifik masyarakat yang sering terlewatkan.

Tak hanya mendorong wirausaha di luar sekolah, SMK Forward Nusantara juga membangun unit bisnis internal sebagai laboratorium praktik.

Tahun ini, seluruh siswa direncanakan magang di unit usaha milik sekolah yang bekerja sama dengan industri.

Beberapa unit usaha yang telah disiapkan antara lain toko roti, klinik kecantikan, layanan digital printing untuk jurusan DKV, serta pengembangan server dan sistem website sekolah oleh siswa jurusan TKG.

“Kami sudah punya server sendiri, itu karya anak-anak. Semua ini kami targetkan berjalan penuh tiga bulan ke depan saat tahun ajaran baru,” paparnya.

Pramono menegaskan, tahapan akhir program bukan sekadar membuat proposal atau business plan, melainkan membuktikan produk benar-benar laku di pasaran. Siswa yang berhasil menjual produknya akan dikukuhkan sebagai wirausahawan muda sekolah.

“Kalau sudah bisa jualan, itu wajib kami wisuda sebagai entrepreneur muda. Itu indikator keberhasilan kami,” tegasnya.

Sementara itu, Koordinator Pengawas KCD Wilayah 2, Syaikhi mendukung penuh program unggulan tersebut. Ia menilai banyak SMK saat ini telah sukses mengenalkan usaha berbasis online kepada siswa.

“KCD mendorong sekolah bermitra dengan perusahaan, sehingga lulusan SMK mudah terserap. Misalnya di dunia otomotif dengan Honda, membuat kurikulum bersama, pelatihan guru hingga penyerapan lulusan,” tandasnya…